Media Publikasi, Komunikasi, dan Informasi Bimas Katolik Jawa Timur

Pembimas Katolik Provinsi Jawa Timur beserta jajaran mengucapkan Selamat Hari Raya Paskah 2014. Tuhan Memberkati.
Pro Patria et Ecclesia
 
 Statistik Kunjungan
 

Visitor Counter
 Sejak: 18 September 2010

 
Terbaru

Sarasehan KKG-MGMP PAK Malang dan KKG-MGMP PAK Kab. Sleman

Melalui perjumpaan dapat berbagi untuk saling mengisi dan saling memperkaya. Hal ini telah dilakukan oleh KKG-MGMP PAK Malang dan KKG-MGMP PAK Kabupaten Sleman dalam acara sarasehan di Kota Malang

Guru Agama Katolik Malang Raya Menyongsong Kurikulum 2013

Dalam rangka menyongsong dan implementasi kurikulum Pendidikan Agama Katolik 2013, Forum Guru Agama Katolik Malang Raya mengadakan sosialisasi imbas berdasarkan para anggota yang telah diutus untuk menerima sosialisasi, baik tingkat nasional maupun tingka

Pemenang Lomba Lektor dan Menyanyikan Mazmur

Berikut ini daftar 10 besar pemenang Lomba Baca Kitab Suci, Menyanyikan Mazmur, dan Mengisi TTS Kitab Suci plus di Malang Raya 24 September 2013.

PERTEMUAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK TINGKAT SMP KANTOR WILAYAH KEMENTRIAN AGAMA PROVINSI JAWA TIMUR

Pertemuan berjalan dengan baik dan hangat, di tengah suasana sejuk, dan dinginnya hawa perbukitan. Justru hal itulah yang menambah semangat dan kebersamaan kami untuk merapatkan barisan. Karena dengan adanya pertemuan yang rutin diadakan setiap 1 tahun se

Lomba Baca Kitab Suci dan Menyanyikan Mazmur

Dalam rangka mengisi dan menyemarakkan Bulan Kitab Suci Nasional, Penyelenggara Katolik Kabupaten Malang dan KKG PAK SD Kabupaten Malang akan menyelenggarakan Lomba Baca Kitab Suci dan Menyanyikan Mazmur untuk siswa-siswi Sekolah Dasar.

Pertemuan Guru Agama Katolik Tingkat SD

Dalam rangka menyongsong pelaksanaan Kurikulum tahun 2013, Bimas Katolik Jawa Timur menyelenggarakan pertemuan bagi Guru Agama Katolik tingkat Sekolah Dasar se Jawa Timur. Dengan demikian para Guru Agama Katolik pun siap melaksanakan keputusan Pemerintah,

PEMBERKASAN TPP GURU DAN PENGAWAS PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SEMESTER I 2013

Bagi guru dan pengawas PAK agar segera mempersiapkan diri pemberkasan Tuprof semester I Tahun 2013

PERTEMUAN PERKAPAS PROVINSI JAWA TIMUR

Pada Minggu, 17 Maret 2013 di Kampus STP-IPI Malang terjadi moment yang cukup bersejarah dalam kaitannya dengan Organisasi Persaudaraan Katekis Pastoral di Jawa Timur. Perkapas wilayah Jawa Timur mengadakan acara Reuni dan Pembentukan Pengurus periode 201

Surat Gembala Prapaskah 2013 Keuskupan Malang

Saudara-saudari segenap umat beriman, para imam, biarawan dan biarawati di seluruh wilayah Keuskupan Malang, terkasih..

Pertemuan Forum Komunikasi Guru Agama Katolik Malang Raya

Pada Rabu, 20 Februari 2013 di Gedung Unio Jalan Jagung Suprapto 75 Malang, Pengurus dan Anggota Forum Komunikasi Guru Agama Katolik Malang Raya mengadakan pertemuan dan pembinaan.

Web Links

Renungan Harian Kato...

Ajaran Iman Katolik...

Keuskupan Malang...

Kanwil Kemenag Jatim...

Ditjen Bimas Katolik...

Kantor Waligereja In...

Iman Katolik...

 



 Join Group
 
Penyegar Rohani  Cinta yang Berkobar untuk Misi? (Suatu Refleksi Filosofis berdasarkan Pemikiran John D Caputo tentang Cinta)
Editor: Subandri Update: 12-01-2012 09:20:22

Cinta yang Berkobar untuk Misi? (Suatu Refleksi Filosofis berdasarkan Pemikiran John D Caputo tentang Cinta)

Sebagai mahluk ciptaan, setiap manusia dipanggil dan diutus untuk mencinta. Kodrat menyatu dengan tugasnya sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengelak dari tugas itu karena jika menolak, dia juga akan menolak kodratnya sebagai manusia. Dengan kata lain, manusia adalah mahluk cinta. Hal ini tercetus jelas dalam ungkapan “dicipta untuk mencinta.” Ungkapan ini mengandung perutusan bagi setiap manusia tanpa terkecuali dengan tugas tunggal yaitu mencinta. Akan tetapi, suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa manusia itu tidak sadar akan tugas ini. Ketidaksadaran ini membuat manusia itu tertutup untuk mau mengerti tugas perutusan ini secara jelas.

Dalam tulisan ini, penulis hendak mencoba memaparkan suatu refleksi  filosofis mengenai tema cinta yang berkobar untuk misi. Yang menjadi pertanyaan dasar adalah: apa itu yang dimaksud dengan cinta yang berkobar untuk misi? Bagaimana kita dapat memiliki cinta yang seperti ini? Mengapa cinta itu menjadi suatu hal penting dalam misi? Pertanyaan-pertanyaan dasar ini akan dijawabi dengan menggunakan pemikiran salah satu filsuf agama postmodern, John D Caputo. Pada akhir dari ulasan ini, penulis akan menampilkan seorang tokoh misi yang dapat menjadi teladan bagi kita dalam menghidupi cinta yang berkobar ini dalam hidupnya, St. Yosef Freinademezt.


Membuka hati dan pikiran untuk Cinta

Diskusi tentang cinta bukanlah suatu hal yang baru di dalam ziarah pemikiran manusia akan tetapi tetap menjadi tema yang selalu hangat dibicarakan dan diolah. Selalu hangat bukan karena tema ini sulit untuk dicerna oleh rasio manusia melainkan karena sungguh ada dalam hidup manusia dan harus ada dalam diri manusia itu sendiri. Cinta itu sudah dialami dan ada dalam hidup manusia sejak dia belum dilahirkan, dilahirkan dan hingga manusia itu harus meninggalkan kemanusiaannya. Cinta itu bukan soal pemberian melainkan sudah ada dalam diri manusia sejak dia ada dan menjadi bagian dari kodrat manusia itu sendiri. Dengan kata lain, manusia ada hanyalah karena cinta lepas dari bagaimana itu dimengerti, bagaimana dia dijadikan, dan lepas dari pengalamannya ketika dia berada dalam dunia.

Membuka hati dan pikiran untuk cinta bukan berarti bahwa cinta itu belum ada dalam diri manusia melainkan suatu ajakan untuk semakin menyadari akan keberadaan cinta itu. Nah, cinta yang bagaimana yang dimaksud? Apakah cinta dimaksud adalah cinta dalam kata benda “cinta”? Untuk menjawa kedua pertanyaan ini, mari kita sama-sama masuk ke dalam alam pemikiran seorang tokoh yang telah mencoba merumuskan cinta itu secara lebih jelas dalam bukunya “On Religion”. Dia adalah John David Caputo, seorang filsuf Amerika.

Menurut Caputo cinta memiliki arti sebuah pemberian yang utuh, sebuah komitmen tanpa syarat. Totalitas menjadi suatu syarat penting dalam mencintai sehingga tidak ada istilah setengah-setengah atau mencintai dengan sedang-sedang saja, sampai batas tertentu sembari mencari yang lebih baik. Totalitas ini dipertegas lagi dengan sebuah komitmen tanpa syarat yang membawa manusia itu masuk dalam suatu ketegasan hati untuk menerima yang dicintai apa adanya. Dengan demikian, cinta itu bukanlah suatu investasi demi masa depan “aku mencintai supaya..” melainkan suatu sebuah komitmen pada apa pun yang terjadi di masa depan. Caputo memberikan suatu ilustrasi menarik dari cinta yang tak bersyarat ini:

 

“Jika seorang istri menceraikan suaminya karena ia gagal dalam profesinya dan gajinya tidak mencapai standar yang ia impikan saat belum nikah dulu, jika ia mengeluh bahwa suaminya tidak berusaha mati-matian demi “tawar-menawar” tertentu, sudah pasti itu bukanlah komitmen yang tak bersyarat, sebentuk janji sampai-mati-memisahkan-kita yang dikatakan dalam cinta dan janji pernikahan”.[1]

 

Sang istri menampilkan suatu ungkapan cinta yang dipenuhi dengan syarat-syarat dan kontrak-kontrak terhadap suaminya. Dia tidak memiliki cinta yang sesungguhnya yang telah diucapkan pada saat pernikahan itu. Cintanya hilang bersama dengan tidak terkabulnya impian-impian indahnya. Cinta dipudarkan oleh rasa kecewa terhadap suaminya. Sesungguhnya dia belum memiliki cinta yang sesugguhnya. Ketika cinta itu sungguh merupakan suatu ekses tak bersyarat maka “para pecinta adalah mereka yang melampaui sekedar kewajiban, yang mencari cara-cara lain untuk melakukan sesuatu melebihi yang diharapkan darinya.” [2] Mereka tidak hanya akan melakukan seperti yang diminta melainkan berusaha melakukan yang lebih, melampaui apa yang diminta untuk dilakukan. Mereka bekerja bukan hanya untuk memenuhi kewajiban semata-mata tapi lebih dalam dari situ. Cinta menuntut suatu yang lebih yang tidak kadang secara logis tidak mungkin. Dari penjelasan ini, Caputo merumuskan premis pertamanya bahwa bagi cinta, ketidakmungkinan menjadi wilayah yang paling mungkin dan di sanalah wilayah cinta sejati, Cinta kasih Tuhan.

Cinta sejati adalah cinta tanpa tolak ukur. Tidak ada satu pun yang menjadi tolok ukur dari cinta itu selain cinta itu sendiri. Dengan kata lain, “karena jika cinta kasih merupakan tolok ukur, satu-satunya tolok ukur cinta adalah cinta kasih tanpa tolok ukur.[3] Tolok ukur mengandaikan suatu keberadaan dari suatu hal yang memiliki batasan tertentu agar sesuatu itu sungguh-sungguh memiliki keberadaan yang utuh. Sebagai contoh, setiap pemikiran filosofis memiliki tolok ukur pada rasio, akal budi. Bila pemikiran itu tidak sesuai dengan tataran akal budi maka pemikiran itu dianggap tidak sahih, tidak mendapatkan keberadaan yang sungguh. Demikian juga dalam cinta. Cinta adalah tanpa tolok ukur karena cinta itu adalah tolok ukur itu sendiri. Cinta menjadi tolok ukur bagi manusia yang memiliki kodrat untuk mencinta. Caputo menempatkan cinta itu sebagai tolok ukur bagi manusia dalam ranah agama. Bagi Caputo, cinta dapat dipakai untuk mengukur kualiatas keagamaan seseorang; sejauh mana seseorang telah setial pada dirinya sendiri, pada panggilan keagamaannya.[4] Dalam kaitannya dengan manusia sebagai ciptaan yang diutus untuk mencinta, cinta dapat dipakai sebagai tolok ukur kualitas hidup manusia, sejauh mana manusia itu telah mengaktualisasikan cinta itu secara tepat.

Cinta memampukan manusia untuk melewati wilayah yang mungkin dan berani masuk dalam suatu dunia/wilayah ketidakmungkinan. Caputo menerangkan ini dengan memberikan distingsi atas dua masa depan. Masa depan yang pertama adalah masa depan sekarang (futere present) yaitu masa depan dari masa sekarang, masa depan yang diarah oleh masa sekarang, momentum masa sekarang menuju masa depan yang kurang lebih dapat kita amati.[5] Masa depan yang pertama ini dapat kita ramalkan dengan berbagai rencana yang pasti. Seorang mahasiswa dapat mengamati bagaimana masa depan yang akan dia jalani, lembaga-lembaga dengan rencana panjangnya. Masa depan yang kedua adalah masa depan jenis lain, pemikiran lain mengenai masa depan, suatu relasi dengan masa depan yang lain, yakni masa depan yang tidak dapat diramalkan sebelunya, yang akan mengejutkan kita, yang akan datang seperti pencuri di malam hari (I Tes 5:2) dan meremukkan horizon-horizon yang dibangun rapi seputar masa sekarang.[6] Menghadapi masa depan absolut ini, kita tidak butuh lagi kecerdasan mate-matis yang dapat merancang rencana-rencan besar, kita tidak butuh lagi kecerdasan otak yang bisa menganalisa setiap kejadian yang akan terjadi. Yang kita butuhkan hanyalah iman, harapan dan cinta. Inilah yang merupakan wilayah ketidakmungkinan, ketika rasio tidak mampu lagi mengatasi setiap fenomena hidup. Inilah yang dialami oleh Perawan Maria ketika Malaikat Gabriel menyampaikan pesan surgawi kepadanya, ketika sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi dalam hidupnya. Ketidakmungkinan merupakan bagian kerja Ilahi sehari-sehari Tuhan, bagian dari job description-Nya.[7] Ketidak-mungkinan itu hanyalah datang dari Tuhan dalam hidup manusia. Ini bukanlah sesuatu yang mudah dan penuh banyak risiko sehingga kita dituntut memiliki sikap tunduk pada-Nya seperti kata “ya!” dari Sang Perawan.

Dalama wilayah ketidakmungkinan ini pada akhirnya kita dibawa pada suatu batas di mana kita harus melepaskan segala kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam hidup kita. Kita dibawa pada suatu masa di mana kita harus mencintai apa yang tak mungkin kita cintai, mencintai mereka yang tidak layak untuk dicintai, mencintai mereka yang tidak mencintai kita, mencintai musuh-musuh kita. Kita tidak lagi bermain-main dalam wilayah kemungkinan-kemungkinan semata, melainkan berjuang dalam wilayah yang tidak dapat dimainkan. Inilah yang mustahil dalam pikiran kita, tetapi hanya pada saat itulah cinta itu menjadi mungkin yaitu ketika kita berjuang mencintai mereka yang tidak mungkin kita cintai, ketika kita berada di wilayah ketidakmungkinan itu.

Konsep cinta ini pada akhirnya ditutup dengan suatu ajakan dan penegasan bahwa cinta itu bukanlah hanya sebatas konsep belaka. Sangat sulit untuk membangun suatu konsep yang utuh tentang cinta. Banyak hal yang harus disatukan yang kadang membuat kening kita mengerut untuk memikirkannya sehingga kita lupa pada hidup kita. Caputo menegaskan bahwa “cinta itu bukanlah sebuah makna untuk memberi definisi, tetapi sesuatu untuk dilakukan, sesuatu untuk dibuat.”[8] Dengan kata lain, cinta itu ada suatu panggilan untuk bertindak. Bertindak berarti mengaktualisasikan cinta itu dalam hidup kepada Tuhan, sesama dan apa saja yang ada.

 

St. Yosef Freinademezt: Cinta dan Misi

Pertanyaan mendasar dari bagian ini adalah, mungkinkah kita mampu memiliki cinta yang demikian? Pertanyaan ini memang bernada skeptis, akan tetapi memiliki suatu ungkapan kritis yang menantang kita untuk berani maju pada cinta yang sejati itu. Kita tidak boleh diam hanya berpangku tangan setelah mencoba mencicipi sedikit dari makna cinta itu melainkan berdiri dan bertindak karena hanya demikian kita bisa menjadi pecinta.

Untuk menjawabi pertanyaan skeptis tadi, mari kita turun ke bawah dan melihat kembali pengalaman hidup kita. Turun berarti mengaktualisasikan konsep ini dalam hidup sehingga kita tidak sampai terbuai semata-mata dengan konsep itu. Melihat bagaimana cinta itu dalam hidup kita sehari-hari. Akan tetapi sebelumnya kita harus melihat dulu sebuah teladan dari cinta itu dan dalam tulisan ini penulis menawarkan seorang misi yang telah melakukan konsep ini dengan baik. Dia adalah St. Yosep Freinademezt.

Pada zamannya, orang Eropa memandang orang-orang Asia sebagai manusia yang rendah, barbar, dan tidak berbudaya. Mereka bahkan dipandang sebagai manusia yang diciptakan lebih rendah dari orang Eropa. Anggapan seperti ini juga awalnya dimiliki oleh St. Yosef Freinademetz. Dalam suratnya ke Eropa dia menuliskan “Orang Cina itu licik, tidak jujur –bahasanya ganjil – diciptakan lebih rendah daripada orang Eropa -Rumah ibadat mereka itu rumah setan –Selalu makan nasi, bahkan sampai di ranjang maut – membawa persembahan makanan untuk orang mati – Sungguh Cina itu merupakan kerajaan setan. Namun setelah dia berada lama di Cina dan hidup bersama dengan orang Cinta, akhirnya anggapan itu berubah total.  Baginya, orang Cina adalah kelompok manusia yang cerdas. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana prasangka itu bisa berubah?

St. Yosef Freinademetz dalam misinya sering berkata “Tugas terbesar seorang misionaris adalah transformasi diri”. Transformasi berarti mengubah diri menjadi baru menurut semangat sejati seorang misionaris, menurut semangat Injil, menurut semangat tarekat. Dengan semangat inilah dia mengalami perubahan yaitu dari prasangka menuju realitas yang  sebenarnya. Dia mau dirubah oleh cinta itu secara radikal setelah membuka hati dan pikirannya untuk cinta.

Dalam tugas misinya, St. Yosef Freinademetz telah menampilkan suatu dunia ketidakmungkinan. Pergi ke tempat yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya, hidup bersama dengan bangsa yang menurut bangsanya merupakan bangsa tak beradab. Dia telah menunjukkan dan mengaktualisasikan cinta yang sejati itu ketika dia berani masuk dalam dunia ketidakmungkinan. Dalam berbagai sumber diceritakan bahwa dalam beberapa kesempatan dia harus mengalami suatu derita yang amat mendalam. Berhadapan dengan kelompok boxer bukanlah suatu yang mudah. Akan tetapi dengan semangat tinggi dia telah berusaha bersahabat dengan mereka, mencintai mereka yang sebenarnya secara logika sulit dan tak mungkin untuk dicintai. Inilah wilayah ketidakmungkinan itu dan dia telah memasukinya hanya karena cintanya.

Cinta membuat dia berani memberikan diri secara total dan tidak ada sikap setengah-setengah dalam dirinya. Salah satu ungkapan dia yang sangat ambisius adalah “Aku telah menjadi orang Cina dan di surga pun aku mau menjadi orang Cina”. Totalitas ini terbukti dalam pengalaman-pengalaman hidupnya. Beberapa kali dia harus menghadapi umat yang berlaku jahat dan tidak sesuai dengan nasehat injil. Bagi kita ini adalah sebuah kegagagalan akan tetapi bagi dia ini ada suatu cara Tuhan untuk memberkati dia. Cintanya sungguh tidak bersyarat. Dia tetap mencintai orang Cina yang menyakitinya, yang membencinya, yang sering mengancam hidupnya. Dia tidak merasa kecewa dengan hal itu dan dia tidak pernah menyesal dengan itu. Inilah yang merupakan bukti nyata bagaimana cinta yang berkobar untuk misi.

 

Suatu refleksi dari Sudut-sudut Gedung Seminari Tinggi SVD “Surya Wacana”



[1] John David Caputo, Agama Cinta Agama Masa Depan, Bandung: Mizan, 2003. hlm. 5

[2] Bdk. Ibid. hlm 6.

[3] Bdl. Ibid.

[4] Bdk. Ibid. hlm. 4.

[5] Bdk. Ibid. hlm.9.

[6] Bdk. Ibid.

[7] Ibid. hlm. 14.

[8] Ibid. hlm. 173.

 

  
   Bagikan tulisan ini ke teman facebook

 
Komentar Pembaca

Tinggalkan Komentar
Nama 
Email  * Tidak akan dipublikasikan.
Kota 
  
Komentar 

Kabar Daerah
 
Cari Berita

Agenda Kegiatan

-----------------------------

Pertemuan Pembinaan Tokoh/pemuka Agama Katolik Angkatan I & 2 Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 Tanggal 21-23 April 2014 di Hotel Inna Tretes Prigen Pasuruan.
21-4-2014

Tulisan Populer

CERITA REFLEKSIF 
View:18424
Update: 06-09-2011 15:38:51

Work Shop Penyusunan Silabus dan RPP Berkarakter PAK SD 
View:16862
Update: 10-11-2011 22:57:21

Makna Ibadah dalam perspektif agama katolik 
View:14939
Update: 05-10-2010 10:28:48

ADAKAH KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN ? 
View:14227
Update: 15-11-2010 16:23:05

Materi/Bahan BIAK/MG masa Paskah 
View:11603
Update: 09-05-2011 12:59:25

Arsip


Copyright (C) 2013 Bimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur 
  Email: admin@bimaskatolikjatim.com
Jl. Raya Juanda II Surabaya