Bimas Katolik Jawa Timur

Guru Agama Menjadi Teladan Hidup, Penghayatan Dan Pelaksanaan Iman Anak Didik

Kamis, 13 September 2018 By: Memet Johan

RD. WinartoSurabaya, BimKatJatim - Mengutip Dokumen Konsili Vatikan II Gravissimum Educationis, 1: “Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembentukan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya dan demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, di mana ia sebagai manusia, adalah anggotanya, dan bila sudah dewasa ia akan mengambil bagian menunaikan tugas kewajiban di dalamnya”. Maka pendidikan anak secara umum harus mengarah kepada pembentukan pribadi manusia secara utuh, baik dari segi fisik, moral, intelektual agar anak- anak dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab di dalam menghadapi kehidupan ini, agar kelak mereka dapat masuk dalam Kerajaan Surga.  Demikian RD. Heribertus Winarto Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Surabaya mengawali materi tentang Arah Dasar Pembinaan Iman Anak Keuskupan Surabaya pada Kegiatan Pembinaan Peningkatan Kompetensi Guru Agama Katolik Tingkat SD se Jawa Timur Tahun 2018 di The WIN Hotel Surabaya yang diikuti oleh 80 orang Guru Pendidikan Agama Tingkat Sekolah Dasar.

Lebih lanjut dikatakan oleh Romo Winarto yang juga seorang dosen di Sekolah Tinggi Providentia Dei Surabaya bahwa Pendidikan Kristiani itu tidak hanya bertujuan pendewasaan pribadi manusia seperti telah diuraikan, melainkan terutama hendak mencapai, supaya mereka yang telah dibaptis langkah demi langkah semakin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari kurnia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar menyembah Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23), terutama dalam perayaan Liturgi; supaya mereka dibina untuk menghayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:22-24); supaya dengan demikian mereka mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:13), dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik. Selain itu hendaklah umat beriman menyadari panggilan mereka, dan melatih diri untuk memberi kesaksian tentang harapan yang ada dalam diri mereka (lih. 1Ptr 3:15) serta mendukung perubahan dunia menurut tata-nilai Kristiani.

Romo Winarto secara lugas dan jelas memaparkan tentang Kegiatan konkrit dari Prioritas Program 1 Pembinaan danRD. Winarto Pendampingan Iman Anak adalah pembinaan dan pendampingan iman anak dengan memberikan dasar-dasar iman yang kokoh kepada anak-anak sejak usia dini, mengenalkan kitab suci kepada semua anak sejak usia dini, yang akan memberinya hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus dan pemeliharaan iman tidaklah harus menunggu anak sudah besar. Pembentukan dan pendewasaan iman anak harus dimulai sedini mungkin, beriringan dengan pertumbuhan kedewasaan manusiawinya. Program 1 ini nilai yang ingin dihayati adalah unsur KEJUJURAN.

Sedangkan program yang 2 adalah Pengembangan kuantitas  dan kualitas orang yang terlibat, antara lain dengan melaksanakan Pembekalan bagi Para (Calon) Pembina Iman Anak, secara periodis, membentuk Tim Pembinaan Iman Anak, menyiapkan dan menyusun secara sistematis satuan materi yang menarik dan modul dengan proses yang variatif, yang disiapkan secara serius, diolah secara kreatif disesuaikan dengan situasi dunia mereka, yang bersumber dari Kitab Suci dan Ajaran Gereja serta membangun semangat melayani, program kaderisasi dalam pelayanan ini secara periodik dengan tetap bekerjasama dengan para orang tua dan pembinaan iman yang dilakukan di luar perayaan Ekaristi dan bagaimana anak tidak kehilangan kesempatan belajar mengenal dan mencintai Ekaristi. Nilai yang ingin diraih dari program yang ke 2 ini adalah KECINTAAN PADA ANAK.

Guru Agama Katolik sebagai Pembina Iman Anak adalah memiliki fungsi sebagai pendidik dan pewarta, sebagai PENDIDIK mereka memiliki tugas membawa keluar/menghantar keluar anak ke tujuan atau masa depan yang lebih baik. Dalam konteks ini profesi sebagai guru itu mulia - pembentukan kematangan pribadi seseorang. Dalam profesi guru agama bukan saja tugas mengajar untuk mengetahui objek bidang studi yang dikuasai tetapi suatu sikap hidup yang mau dihayati atas dasar iman. Peran guru agama itu sangat terkait dengan misi gereja - pembina dan pengajar iman. Sedangkan sebagai seorang PEWARTA, guru agama katolik berfungsi sebagai petugas pastoral yang mewartakan dan memperkenalkan belas kasih Allah kepada umat manusia dan anak didik secara khusus tentang Kabar Gembira. Demikian lebih lanjut disampaikan oleh Romo Win yang juga sebagai tenaga pengajar/Dosen di Universitas Widya Mandala Surabaya.

Dalam kata penutupnya Romo Winarto menegaskan sekali lagi bahwa “Peran guru agama melampaui fungsi profesi guru biasa. Guru agama itu menjadi teladan di hadapan anak didiknya bukan saja sebatas guru sebagaimana yang lain tetapi dia menjadi teladan dalam hidup iman dan juga penghayatan dan pelaksanaan iman itu secara nyata dan langsung. Di luar institusi sekolah guru agama tetap diminta partisipasinya sebagai pembina iman. Guru agama itu punya peran pewarta sekaligus hidupnya sendiri harus memberi peneguhan terhadap isi pewartaannya.” (MJ/BimkatJatim)


Copyright (C) Bimas Katolik Jatim 2018